Laman Drop Down

Mengenal Slow Living Lifestyle dari Kabin Kebun

 Menikmati Akhir Pekan dengan Slow Living Experience yang Berkesan

Dapur dan meja taman di Kabin Kebun

Akhir pekan menjadi waktu yang ditunggu bagi beberapa kalangan untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang serba cepat dan persaingan yang ketat. Salah satu kegiatan favorit untuk relaksasi di akhir pekan adalah staycation sembari belajar hal baru. Kabin kebun menawarkan pengalaman unik untuk belajar Slow Living yang diterapkan pemiliknya sekaligus staycation. Apa saja kegiatan dan hal berkesan selama staycation disana?

“... Kami ingin menawarkan kesempatan menginap di Kabin Kebun untuk tanggal XXX karena Kawan Kabin yang sebelumnya membatalkan kunjungannya karna ada urusan keluarga”.
Begitulah isi text whatsapp dari admin Kabin Kebun. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi rekanku, dan langsung menerima tawaran ini. Jauh sebelum tawaran ini masuk, aku sudah sempat menanyakan ketersediaan slot untuk staycation di sini sembari belajar gaya hidup slow living dan menikmati kebun. Namun, sayangnya sudah full booked hingga 3 bulan kedepan. Begitu ada text whatsapp itu, terbayang kan betapa senangnya dapat kesempatan yang sudah masuk dalam wishlist?


Tampak depan Kabin 68

Sukulen dan kaktus di Kabin Kebun

Kenapa sih kok pengen banget kesini?
Menurutku, Kabin Kebun memiliki keunikan sendiri sebagai tempat untuk staycation, sehingga aku pengen banget kesini. Berkonsep rumah pribadi dengan kebun dan penginapan yang berada diketinggian 1.160 mdpl, tamu yang berkunjung kesini akan diajak sharing mengenai gaya hidup slow living dan garden tour oleh sang pemilik, Ukke Kosasih dan keluarganya. Secara tidak langsung, kami juga merasakan beberapa praktek gaya hidup slow living dan banyak belajar hal baru mengenai gardening selama menginap disini. Ohya, lokasi Kabin Kebun berada di Kampung Panyandaan, Cisarua, Bandung Barat.

Bunga Lantana

Apa itu slow living?
Slow living adalah sebuah gaya hidup yang lebih memaknai sebuah proses kegiatan dengan kesadaran penuh (conscious).  Bukan berarti santai ya. Gaya hidup ini tentu tetap membutuhkan komitment dan konsistensi dalam menjalani kehidupannya.

Gaya hidup ini muncul dari penolakan gaya hidup hustle culture, yaitu sebuah gaya hidup multi tasking, gila kerja, serba cepat dan merasa tidak pernah cukup untuk mencapai kesuksesan. Tentu saja, dengan gaya hidup hustle culture, banyak aspek yang dikorbankan seperti kesehatan fisik, mental dan juga kehidupan rohani maupun sosial. Terlihat capek? Jelas! Tidak hanya itu, manusia menjadi kehilangan kesempatan untuk memaknai sebuah proses.

Berbeda dengan slow living, gaya hidup ini lebih memaknai setiap proses yang sudah kita prioritaskan untuk meningkatkan produktivitas dan hasil terbaik. Dalam satu waktu, hanya fokus melakukan satu kegiatan dengan skala prioritas, dan tidak terburu-buru atau bahkan multitasking. Untuk membuat prioritas kegiatan, kita bisa menggunakan teknik Eisenhower, Pareto Principle atau cara lainnya.  Aku tidak akan bahas disini ya tentang teknik itu. Dengan gaya hidup ini, manusia juga semakin sadar dan bertanggungjawab untuk tetap connected dengan kehidupannya,sekitar dan dunia. Secara tidak langsung, apabila menerapkan gaya hidup ini, maka akan meningkatkan awareness untuk menjaga kesehatan hidupnya, dan menjaga keberlanjutan (sustainable living). Selain itu, pelaku gaya hidup ini juga menjadi mengenal kata cukup dan juga lebih menyadari setiap dampak yang dihasilkan dari kegiatan yang ia lakukan. Gaya hidup ini tidak terlepas dari gaya hidup slow food, slow fashion,  dan slow travel.

Salad - Slow food - Plant based food



Bagaimana slow living di Kabin Kebun?
Kali ini aku coba sharing sebagian yang terlihat dari penerapan gaya hidup slow living di Kabin Kebun saja ya, tidak menyeluruh.

Pertama, terkait sampah. Kabin Kebun menerapkan hidup minim sampah dari waktu ke waktu, terutama untuk sampah anorganik. Pemilik Kabin Kebun, Teh Ukke dan keluarga, saat ini sudah memilah berbagai jenis sampah. Sampah organik diolah menjadi kompos atau eco enzym. Sedangkan sampah anorganik yang sudah dibersihkan dan dipilah, selanjutnya disalurkan kepada mitra pengelola untuk dijadikan berbagai produk daur ulang. Sebagian sampah kertas/kardus biasanya di olah oleh Om Ucok untuk dijadikan kertas daur ulang yang dipadukan dengan ecoprint atau benih-benih tanaman. Sebagai pengunjung yang masih belum terbiasa, kami merasakan susahnya memilah sampah yang kita bawa. Pasalnya, sebelum membuang sampah, kami harus membedakan mana yang sampah organik, sampah plastik, sampah kertas, sampah tissue/pembalut, minyak bekas dan lainnya.

Paper seed buatan Om Ucok

Reminder terkait sampah di Kabin Kebun

Kedua, terkait lahan berkebun  dengan konsep sustainable agriculture dan slow food. Sebelum memanfaatkan lahannya untuk ditanami, Teh Ukke memperbaiki lahannya terlebih dahulu dengan mengolahnya tanpa pestisida dan pupuk anorganik. Tujuannya untuk meningkatkan kesuburan dengan meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah. Biasanya, Teh uke memanfaatkan sampah organik sebagai komposnya. Untuk pestisida, Teh Uke juga memanfaatkan pestisida alami dari daun pohon Suren yang sudah tumbuh besar di Kabin Kebun.

Saat ini Teh Ukke  lebih memilih menanam berbagai jenis tumbuhan yang beragam (polikultur). Pola tanam polikultur tentunya lebih menguntungkan daripada monokultur. Dengan polikultur, bisa mencegah terjadinya penyakit menular pada tanaman, dan juga menciptakan ekosistem mikroorganisme tanah yang lebih baik. Hampir semua jenis kategori tanaman ada disini seperti tanaman buah, sayur-mayur, tanaman herbal, tanaman hias, tanaman aromatik seperti rosemary, oregano, mint, lavender, dill, thyme dan patchouli. Yang bikin iri, rosemary dan nasturtium tumbuh sangat subur disini. Menyenangkan!

Ohya, sebagian besar tanaman disini di tanam dalam bedeng - bedeng dengan metode no-dig, yaitu metode tanpa menggali tanah. Disini, ada salah satu spot khusus Kawan Kabin . Teh Ukke sengaja menanam berbagai jenis sayuran di dalam carangka untuk Kawan Kabin yang ingin ngeramban untuk masak. Ada bayam brazil, endive lettuce, kangkung dan lainnya yang ditanam secara organik. Asyik banget deh bisa ngeramban buat sarapan pagi dan dapet sayuran yang organik.

Penanaman dalam bedeng dengan metode no - dig

Pola tanam polikultur di Kabin Kebun

 Ketiga, terkait dengan bangunan dan furniture. Teh Ukke memanfaatkan barang dan bahan bangunan bekas untuk membangun Kabin Kebun. Beliau mendapatkan barang bekas seperti genteng, kayu, mebel, bata hingga besi dari salah satu bangunan bengkel pabrik tekstil yang sudah dibangun sejak tahun 1930-1940an, dan gudang penjualan barang bekas. Salah satu kabin, sebut saja Kabin 66, 100% bata yang digunakan merupakan bata bekas. Jika melihat ke Kabin 68, lantainya menggunakan kayu dari bongkaran kayu peti kemas yang disusun. Tidak mudah untuk menyusunnya, beliau memerlukan banyak waktu terutama untuk mengamplas. Selain itu, beliau juga memanfaatkan jendela kaca patri yang di restorasi dari pedagang di Pasir Koja. Walaupun memanfaatkan barang bekas, tapi bangunan tetap terlihat cantik. Prinsip beliau adalah memperpanjang usia barang dengan merawat dan menggunakan kembali untuk mengurangi pemakaian energi dan sumber daya alam yang di dapat dari bumi.

Tampak depan Kabin 68 dan Kabin 66

Lantai kayu di Kabin 68
Jendela dan bata bekas yang di restorasi
Dinding Kabin 68

Selain ketiga hal di atas, keluarga ini juga sangat concern untuk penggunaan energi. Keluarga Teh Ukke menerapkan budaya secukupnya untuk penggunaan listrik dan air.
 

Bermalam di Kabin Kebun
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam melalui tol, tibalah kami bertiga di Kabin Kebun sekitar pukul 21.00 WIB. Udara disana terasa sangat sejuk, cenderung dingin :p. Kami disambut oleh Kak Niar, anak semata wayang Teh Ukke dan Om Ucok. Olehnya, kami diajak berjalan di gang antara 2 kabin yang bersebelahan, lalu kami diarahkan ke Kabin 68.

Lahan parkir di dalam Kabin Kebun, ada juga lahan didepan

Gang diantara Kabin 68 dan Kabin 66

Kabin ini merupakan kabin terbesar berukuran 6x8m dengan dindingnya berupa batu bata ekspos berwarna putih. Bangunan kabin ini memiliki banyak jendela dengan warna hijau tosca, sebuah perpaduan warna yang membuat kesan luas, terang dan bersih. Lantainya menggunakan parket kayu yang memberikan kesan hangat. Saking luasnya, didalam bangunan kabin ini terdapat sofa set untuk bersantai, 3 buah ranjang dengan total kapasitas 4-6 orang, dan beberapa perabot lain. Kabin 68 terasa semakin cantik dan berenergi positif dengan pajangan bunga daisy yang bermekaran, tanaman kaktus, hiasan dinding dan koleksi alat makan dan botol antik milik Om Ucok. Kabin ini juga dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi dalam dengan shower air panas, closet duduk, dan wastafel. Jadi, ga usah takut kedinginan waktu mandi ya. Namun, disini tidak di sediakan handuk dan toiletries, jadi kamu harus bawa sendiri. Menurutku, memang lebih aman membawa handuk sendiri dikondisi pandemi COVID-19 seperti ini.

Tempat tidur di Kabin 68

Sofa set di Kabin 68 - Salah satu mebel lama koleksi Teh Ukke

Hiasan dinding di Kabin 68


Kabinet di Kabin 68

Bunga Daisy di dalam Kabin 68
Kamar mandi dalam Kabin 68

Walaupun tidak ada TV dan WiFi disini, kamu bisa membaca buku - buku koleksi Teh Ukke yang simpan dalam rak penyimpanan lho! Topik bukunya menarik banget buat dibaca seperti masalah lingkungan, bercocok tanam, sampah, ensiklopedia dan lain - lainnya.

Koleksi buku Kabin 68

Seneng banget rasanya malam itu! Bener-bener bikin relaks setibanya di Kabin Kebun. Apalagi dari depan kabin kita bisa menikmati pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian 1160 mpdl. Hari makin larut, kami segera beristirahat agar tetap sehat dan bisa menikmati 2 hari ke depan di Kabin Kebun


Pagi di Kabin Kebun
Membuka pintu Kabin 68, pandangan mata kami menuju ke pemandangan kota yang semalam berupa gemerlap lampu, kini menjadi lautan kabut. Aku berjalan menuju ke meja taman yang menghadap ke lahan pertanian dengan background perbukitan berkabut. So lovely!  Rasa tenang dan seneng bersatu padu.

Pemandangan dari Kabin Kebun
Meja taman di ujung lahan

Sembari menikmati segarnya udara pagi, aku membuka laptop untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan di meja taman itu. Sesekali menyesap teh hangat dalam cangkir.  Tidak lama berkutik dengan laptop, Kak Niar sudah menyiapkan sarapan untuk kami berupa nasi goreng. Setelah menyelesaikan pekerjaan, aku bergegas menyantap nasi goreng yang sudah dibuatkan. Lidah kami dimanjakan dengan rasa dan aroma unik yang yang nagih dari nasi goreng ini, namun kami agak sulit mengidentifikasinya. Ternyata, nasi goreng ini dicampur dengan daun jinten yang di cincang kecil - kecil. Ini menjadi pengalaman kami pertama kalinya makan olahan daun jinten, ternyata enak juga. 

Kerja di pagi hari

Saking senengnya sama momen pagi hari di Kabin Kebun yang nyegerin dan bikin relaks, dihari kedua pun kami tetap bangun pagi. Kali ini kami menikmati pagi di meja taman yang dekat dengan dapur komunal. Di pagi hari itu, kami sarapan sarapan roti dengan selai strawberry - cardamon, selai kacang dan meises. Untuk melepas dahaga setelah sarapan, kami menyeduh dried flower tea yang dibubuhi madu dan daun lemon balm yang kami petik dari kebun. Dried flower tea ini merupakan campuran berbagai bunga dari Kabin Kebun yang dikeringkan. 

View dari depan Kabin 68
Seduhan dried flower tea

Condiments untuk breakfast

Seneng banget pokoknya, banyak new experience disini!


Ada apa lagi di sekitar Kabin 68?
Dengan lahan berkontur, Teh Ukke dan Om Ucok mendesign sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang cantik dan sangat cozy. Kabin kebun memiliki 3 kabin untuk Kawan Kabin yang ingin menginap sambil belajar slow liiving, yaitu Kabin 68 dengan luas 6x8m, Kabin 66 dengan luas 6x6m, dan Kabin 53 dengan luas 5x3m. Kabin 68 dan Kabin 66 ini terletak bersebelahan menghadap ke lembah. Sedangkan, Kabin 53 terletak di bawah dapur komunal, biasanya kabin ini digunakan untuk tempat menginap sopir/ART yang ikut.

Tampak depan Kabin 53

Isi kabin 53


Di seberang Kabin 66 terdapat dapur komunal yang dibangun dengan konsep open space yang eye catching. Fasilitasnya cukup lengkap, ada kompor, alat pemanggang (grill), oven, kulkas, peralatan masak, peralatan makan dan air mineral. Semuanya bisa dipakai tapi kebersihan tetap harus kita jaga sendiri ya, terutama untuk sampah. Saat membuang sampah, kita harus membuangnya sesuai jenis sampahnya. Untuk sampah organik, kita harus buang di komposter yang disediakan. 

Dapur komunal Kabin Kebun

Hiasan di dapur komunal


Alat pemanggang dan cobek

Asyiknya, jika perlu herbs atau sayuran untuk memasak, kamu bisa ngeramban di kebun Kawan Kabin yang sudah di sediakan Teh Ukke. Areanya kebun kawan kabin ini berada di sebelah Kabin 66, sayur mayur ditanam dalam carangka. Di area ini terdapat bayam brazil, sawi, kangkung, rimpang dan lain lainnya. Yang paling menggoda adalah endive lettuce yang enak dibuat untuk salad. Ga cuma itu sih, masih banyak herbs dan sayuran yang menggoda di Kabin Kebun. Salah satunya adalah rosemary yang yang tumbuh super subur banget disini. Kebayang ga sih senengnya kayak gimana?

Kebun Kawan Kabin dalam carangka
Ngeramban

Endive Lettuce

Baby kangkung

Nasturtium

Sejajar dengan dapur komunal, terdapat 2 meja taman untuk bersantai, berdiskusi dan menikmati hidangan yang kita masak sendiri. Dengan udara yang segar,matahari tidak terlalu terik dan semerbak aroma rosemary,  jiwa terasanya relaks sekali. Ohya, penginapan untuk kawan kabin ini berada dalam satu area dengan rumah Teh Ukke dan workshop untuk pembuatan kertas daur ulang maupun ecoprint.

Makan siang di meja taman depan Kabin 68

Aktivitas apa saja yang dilakukan di Kabin Kebun?
Aktivitas utama yang ditunggu - tunggu adalah kegiatan keliling kebun bersama Teh Ukke dan Kak Niar selama 1,5 jam. Selama garden tour, kami banyak belajar mengenai slow living, berbagai jenis tanaman, pola tanam, tips berkebun, pengelolaan sampah, ecoprint dan pembuatan kertas daur ulang. Sambil garden tour, kami mencicipi strawberry, timun tikus, anggur jaboticaba dan tomat cherry yang kebetulan lagi berbuah lebat. Tidak hanya itu, kami juga memetik beberapa edible flowers untuk kami cicip seperti nasturtium, marigold, mawar lokal, dan air mata pengantin. 

Sharing slow living oleh Teh Ukke
Garden tour di Kabin Kebun


Strawberry hasil petikan
Timun tikus

Tomat Cherry

Lavender

Edible flowers dan buah hasil petikan selama garden tour

Selain garden tour, Kabin Kebun juga menawarkan kegiatan tambahan diluar paket reguler yang dinamakan Bikin - Bikin. Aktivitas yang bisa kamu pilih antara lain:
a. Garden to garment dengan pilihan aktivitasnya seperti ecoprint, dan ponding/hammered plant

b. Paper to paper dengan aktivitas membuat kertas daur ulang

c. Membuat boneka

d. Merangkai kaktus dan sukulen.

Jika tertarik mengikuti aktivitas ini, kamu perlu memesan terlebih dahulu.

Kertas daur ulang
Ecoprint dari bunga Lampeni

Selain kegiatan diatas, hal yang menyenangkan adalah me time dengan yoga di pagi hari, membaca buku, menulis, memasak dan lainnya. Kesempatan kali ini, kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengolah rasa dengan memasak.

Nasi kebuli hasil kegiatan masak di Kabin Kebun

Terakhir, sebelum perpisahan dengan Kabin Kebun, kami diberi kesempatan untuk membawa oleh - oleh berupa tanaman dari sini. Kami diberikan gunting untuk memotong tanaman yang ingin di bawa pulang. Rasanya seneng banget dibolehin untuk adopt tanaman dari sini, apalagi banyak jenis herbs, aromatik dan edible flowers yang belum menjadi  koleksi di kebun miniku. Girangnya ga ketulungan haha

Salah satu sudut Kabin Kebun
Sudut berbagai jenis mint

How to Book
Dalam setiap kunjungan, Kabin Kebun membatasi hanya 1 rombongan saja di setiap akhir pekan selama pandemi. Untuk reservasi, bisa menghubungi nomor yang aktif di Instagramnya. Harga per malam bervariasi tergantung berapa kabin yang akan digunakan, include garden tour, breakfast, dan welcome snack.

How to Get There
Untuk menuju ke Kabin Kebun enaknya pakai kendaraan pribadi. Dari arah Jakarta menuju ke Bandung melalui tol Jakarta - Cikampek, lalu ke arah tol Cipularang, dan ambil pintu keluar tol Padalarang. Lalu, arahkan kemudi ke RS Jiwa Cisarua yang terletak kurang lebih 2km dari Kabin Kebun. 

 





Best Regards,

Lola Karlina

No comments: